January 25, 2012

Murah, tetapi Omzet Triliun

KOMPAS.com - Berbisnis, apakah dalam skala besar maupun kecil, selalu penuh pesona. Big is powerful, but small is beautiful, begitulah ungkapan populer tentang bisnis itu.

Bisnis besar, sebutlah pertambangan dengan skala amat luas, seperti batubara, emas, dan minyak bumi, sangat memesona. Laba bersih per tahun bisnis-bisnis tersebut selalu sekian triliun rupiah.

Bisnis perbankan dalam skala besar juga dahsyat, senantiasa di atas Rp 7,5 triliun. Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Central Asia meraup laba bersih jauh di atas Rp 7,5 triliun. PT Astra Internasional juga merengkuh laba bersih yang tidak main-main, Rp 10 triliun per tahun.

Dengan laba yang fantastis ini, perusahaan-perusahaan raksasa tersebut bisa berbuat banyak, baik dalam menginvestasikan kembali labanya, meningkatkan kesejahteraan karyawan, ataupun kontribusi untuk publik. Akan tetapi, bagaimana dengan perusahaan dengan skala lebih kecil, atau perusahaan yang menjual produk dengan harga ”amat murah”?

Sepintas lalu susah membayangkan perusahaan yang menjual komoditas yang murah meriah dapat memiliki omzet luar biasa. Namun, dengan gebrakan pasar yang menakjubkan, dengan strategi pemasaran yang mengesankan, ternyata banyak korporat mampu menembus pasar hingga ke dusun, bahkan menerobos jauh pasar luar negeri yang ekstra ketat.

Lihatlah misalnya beberapa produk Grup Enesis, di antaranya Adem Sari. Minuman ringan yang menyegarkan ini ”hanya” dijual dengan harga Rp 1.200 per saset. Namun, jangan anggap enteng minuman ini. Omzet per tahun Adem Sari mencapai Rp 1,05 triliun.

Atau simaklah Soffel yang dijual Rp 500 per saset. Omzet krim lembut antinyamuk ini hampir menembus angka Rp 700 miliar per tahun. Begitu pula dengan Kispray. Cairan untuk memperlancar setrika, omzetnya setengah triliun rupiah. Atau Antis, antiseptic yang biasa digunakan sehabis makan atau memegang benda tidak bersih, omzetnya tidak di bawah Rp 60 miliar per tahun.

Chief Executive Officer Enesis Bambang Soendoro menyebutkan, mereka melihat dan mencermati gelagat pasar. Mereka mencari tahu apa sebetulnya yang diinginkan pasar, komoditas seperti apa yang dibutuhkan, serta berapa harga yang pas. ”Dari survei itu, kami menyentuh masyarakat golongan menengah ke bawah atau masyarakat yang ”dikendalikan” budget harian dan mingguan,” ujar Bambang di Jakarta, pekan lalu.

Bambang menambahkan, sudah banyak korporat bermain di wilayah berskala besar. Mereka menjual barang dengan harga di atas Rp 25.000. Maka, Enesis memilih bermain di wilayah yang belum banyak pemainnya. Strategi ini cukup berhasil sehingga omzet sejumlah produk mencapai angka melegakan.

Bambang Soendoro tidak berlebihan. Kalau harga Adem Sari hanya Rp 1.200 per saset, itu berarti Enesis menjual 833 juta saset per tahun (asumsi omzet Rp 1 triliun). Ini tentu angka yang fantastis. Kalau lebih dikonkretkan lagi, penjualan Adem Sari bisa mencapai 70 juta saset per bulan, atau 2,3 juta saset per hari, atau 100.000 saset per jam.

Tentu tidak hanya kinerja produk Enesis yang meyakinkan. Produk dari perusahaan lain juga menawan, misalnya dari Grup Garudafood, yang mampu menjual kacang hingga ke lima benua. Omzet grup ini pun triliunan rupiah. Atau produk lain, seperti Kuku Bima. Harga per dus (isi enam saset) dijual Rp 5.200. Artinya, 1 saset tidak sampai Rp 1.000. Omzet Kuku Bima dan beberapa produk sejenis tidak kalah mentereng dengan Enesis dan Garudafood.

CEO Grup Garudafood Sudhamek Agoeng menyatakan, para pebisnis komoditas dengan harga terjangkau memang rata-rata memetik laba tipis. Maka, salah satu jalan yang baik adalah meraih pasar yang sangat luas, omzet yang besar. Itu salah satu sebab ia melebarkan jangkauan usahanya hingga ke lima benua.

Pesan yang bisa diambil dari masalah ini adalah menjual produk yang murah harganya belum tentu tidak menghasilkan hasil besar. Sepanjang produk itu terjaga mutunya, mudah dijangkau pasar, dan pemasarannya cerdas, produk pasti disukai publik. Produsen lain bisa menarik hikmah dan komparasi dari hal ini. (Abun Sanda)

http://www.kompas.com

No comments:

Post a Comment

comment

Post a Comment